3 min Reading

7 Peristiwa di Mana Penerbit/publisher Menghancurkan Sebuah Video Games, Malu-maluin Sekali!

author avatar

0 Followers


EA jadi penerbit/publisher yang memimpin di daftar ini
Sukai atau mungkin tidak, video games dibuat untuk mendapatkan uang. Dalam kasus semacam ini,

OKEPLAY777 - SITUS SLOT TERPERCAYA NO 1 DI DINDONESIA. JOIN SEKARAAANG!!!

penerbit/publisher sebagai investor yang kurang akan peranan inovatif, biasanya dilihat sebagai figur yang jahat.

Penglihatan ini tidak seutuhnya salah karena banyak penerbit/publisher dengan cap jelek di luaran sana.
Mereka umumnya menggerakkan durasi waktu peningkatan beberapa developer sampai menambahi beberapa hal yang tidak mereka pahami, seperti menyuntikkan microtransaction. Berikut 7 peristiwa di mana penerbit/publisher menghancurkan sebuah video games.


1. Haze
Haze sebelumnya dibikin sebagai games inovatif dengan premis orisinal dan bermacam feature baru yang memikat. Sayang, Ubisoft sebagai penerbit/publisher ingin Haze ini berkompetisi dengan Halo, hingga pada akhirannya ini banyak kehilangan akar unik yang hendak dibawa.
Free Radical sebagai developer bahkan juga tidak diberi waktu lebih oleh Ubisoft untuk kerjakan games berambisi ini. Karena keegoisan itu, Free Radical pada akhirnya disepak dari peningkatan gamenya sendiri, dengan Ubisoft menggantikan kendalian. Hasilnya? Haze usai jadi games yang menyebalkan dengan banyak pembahasan negatif.


2. Middle-Earth: Shadow Of Mordor
Shadow Of Mordor sebagai games action-adventure yang kompak dengan mitologi Middle-Earth sebagai fondasi dari ceritanya. Sayang seribu sayang, Warner Bros sebagai penerbit/publisher justru menyuntikkan microtransaction ke games ini.
Tidak sejelek kasus microtransaction Star Wars Battlefront II memang, tetapi cukup buat membuat demikian tidak dicintai oleh beberapa pemain. Untungnya, beberapa minggu awal sesudah di-launching, pembahasan jelek berkenaan microtransaction demikian muncul, hingga pada akhirannya itu dihapus dari gamenya.


3. Titanfall 2
Titanfall 2 sukses tampil jadi salah satunya games FPS terbaik saat di-launching di tahun 2016. Tetapi, sanjungan saat itu benar-benar susah didapat karena Titanfall 2 di-launching pada tahun yang serupa dengan Battlefield 1 dan Call Of Duty: Infinite Warfare.
Waktu peluncuran yang dapat disebut kurang pas ini, menggerakkan sesuatu teori konspirasi yang mengatakan jika EA sebagai penerbit/publisher, memang menyengaja melaunching Titanfall 2 di saat yang tidak tepat. Argumennya? supaya nilai Respawn sebagai developer dapat turun saat gamenya tidak berhasil, dan EA bisa membeli pada harga yang murah satu tahun selanjutnya.


4. Dead Ruang 3
Dead Ruang 2 mulai berpindah dari akarnya dan Dead Ruang 3 makin menjadi-jadi karena tingkah EA sebagai penerbit/publisher. Ketahui jika survival seram bukan jenis yang hendak datangkan banyak beberapa pundi uang, Dead Ruang 3 didorong dengan EA menjadi games action-shooter.
Tidak cuma hanya itu, microtransaction dimasukkan untuk menyuap lebih uang banyak. Pada akhirannya, Dead Ruang 3 usai sebagai games yang tidak ada di lajur yang sebetulnya. Ini seolah dibikin dengan khusus untuk menggali sebanyak-banyaknya uang dari kantong beberapa pemain.


5. Need For Speed
Dengan penyesuaian kendaraan yang lengkap, tindakan berpenampilan arcade dan proses balap yang realitas, seri re-boot Need For Speed yang di-launching di tahun 2015, sukses tampil jadi games balap yang inovatif dan punyai kelas sendiri. Sayang, kesuksesan itu munculkan ketertarikan extra EA sebagai developer untuk raih uang banyak ke rekening mereka.
Di bawah kendalian EA, Need For Speed jadi games yang lain sejak dahulu, dengan minimnya pengembangan, konsentrasi pada uang dan microtransaction. Jeleknya kembali, EA mengulang terburukan yang serupa di seri seterusnya yakni Payback.


6. SimCity
Di-launching 10 tahun sesudah SimCity 4 dan 6 tahun sesudah SimCity Societies, SimCity yang diputuskan sebagai seri re-boot, memperoleh lumayan banyak mengantisipasi. Tetapi secara mengagetkan, satu minggu sesudah di-launching, ini raih banyak sekali pembahasan jelek.
Argumennya simpel, di mana EA sebagai penerbit/publisher akui jika mereka bertindak ‘bodoh' dengan melaunching paksakan SimCity saat sebelum gamenya sendiri usai. Permasalahan khusus SimCity sendiri berada pada bukti jika ini sebagai games always-online, tetapi dengan server yang demikian jelek hingga tidak bisa dimainkan.


7. Deus Ex: Mankind Divided
Permasalahan khusus yang ditemui oleh Deus Ex: Mankind Divided tidak seutuhnya berada pada gameplay, tetapi narasi. Square Enix sebagai penerbit/publisher, memilih untuk menggunting bagian-bagian narasi pada Mankind Divided dan menyimpan untuk sekuelnya kelak.
Keputusan ini membuat beberapa permasalahan lain seperti dunia terbuka yang terbatas dan tempo narasi yang jalan dengan lamban. Karena pemasaran yang lebih rendah, Eidos Montreal pada akhirnya berpindah untuk kerjakan project games Avengers, yang otomatis tutup keinginan untuk sekuel dari Mankind Divided.
Tersebut barusan sedikit informasi menarik berkenaan beberapa peristiwa di mana penerbit/publisher menghancurkan video games. Dari beberapa penerbit/publisher yang disebut sebelumnya, yang mana paling membuat kamu kecewa?

situs slot online terbaik hanya di okeplay777 - banyak cuan banyak promo banyak member. join sekarang.!!!!

Top
Comments (0)
Login to post.